Sudah tiga minggu terakhir di kampungku terdapat 4 jiwa yang meninggal
dunia. Mereka meninggalkan kami di sini secara tiba-tiba. Di kampung ini yang
sudah lama kami huni, secara bergantian merelakan orang-orang yang setiap hari
bersama kami. Bunyi terompet kematian itu terdengar menusuk kalbu, tangis yang
menandakan kesedihan itu menyelimuti kami, hingga bendera kuning itu kembali di
pasang di sudut gang kami.
Pasti kita tidak menyangka secepat itukah mereka pergi? Aku
terus bertanya kenapa orang yang setiap hari ku sapa sudah tidak mungkin lagi
ku sapa? Di malam ini tepat pukul 11. 30 berita itu datang lagi, salah satu
tetanggaku meninggal dunia. Tetangga yang selalu ramah kepadaku, tetangga yang
selalu dipercaya oleh keluargaku. Beliau adalah orang yang menemani mbahtiku
sebelum mbahtiku pergi mendahului. Tanpa ku sangka beliau kini pergi. Padahal
kemarin aku masih bertemu dengannya, menyapanya, dan berbincang-bincang
dengannya. Namun apa daya aku hanya bisa
mendoakannya dari sini dan merelakannya.
Tuhan apakah ini pertanda aku harus lebih mengingatmu, dan
mengingatkan kepada teman dan saudara-saudaraku akan besarnya kuasamu.
Engkaulah maha pengatur segalanya. Aku hanya bisa berdoa “Ya Allah, terimalah
mereka di sisimu yang mulia, pertemukan mereka kepadamu dengan keadaan mulia
pula, terimalah semua amal baik mereka, ampunilah seluruh dosa mereka, dan
lapangkanlah kubur mereka.” Ingatkanlah kembali kami di mana ketika kami
melakukan perbuatan yang salah. Memang jiwa ini hanya menopang di raga ini,
memang kami tidak pantas untuk menyombongkan diri. Namun hanya kepadamulah kami
menyerahkan segalanya. Sungguh kematian itu hanya kaulah yang berhak tahu dan
kapan datangnya.
Sekian,,