Jumat, 28 November 2014

Nyawa itu Kita Tidak Tahu



Sudah tiga minggu terakhir di kampungku terdapat 4 jiwa yang meninggal dunia. Mereka meninggalkan kami di sini secara tiba-tiba. Di kampung ini yang sudah lama kami huni, secara bergantian merelakan orang-orang yang setiap hari bersama kami. Bunyi terompet kematian itu terdengar menusuk kalbu, tangis yang menandakan kesedihan itu menyelimuti kami, hingga bendera kuning itu kembali di pasang di sudut gang kami.
Pasti kita tidak menyangka secepat itukah mereka pergi? Aku terus bertanya kenapa orang yang setiap hari ku sapa sudah tidak mungkin lagi ku sapa? Di malam ini tepat pukul 11. 30 berita itu datang lagi, salah satu tetanggaku meninggal dunia. Tetangga yang selalu ramah kepadaku, tetangga yang selalu dipercaya oleh keluargaku. Beliau adalah orang yang menemani mbahtiku sebelum mbahtiku pergi mendahului. Tanpa ku sangka beliau kini pergi. Padahal kemarin aku masih bertemu dengannya, menyapanya, dan berbincang-bincang dengannya.  Namun apa daya aku hanya bisa mendoakannya dari sini dan merelakannya.
Tuhan apakah ini pertanda aku harus lebih mengingatmu, dan mengingatkan kepada teman dan saudara-saudaraku akan besarnya kuasamu. Engkaulah maha pengatur segalanya. Aku hanya bisa berdoa “Ya Allah, terimalah mereka di sisimu yang mulia, pertemukan mereka kepadamu dengan keadaan mulia pula, terimalah semua amal baik mereka, ampunilah seluruh dosa mereka, dan lapangkanlah kubur mereka.” Ingatkanlah kembali kami di mana ketika kami melakukan perbuatan yang salah. Memang jiwa ini hanya menopang di raga ini, memang kami tidak pantas untuk menyombongkan diri. Namun hanya kepadamulah kami menyerahkan segalanya. Sungguh kematian itu hanya kaulah yang berhak tahu dan kapan datangnya.

Sekian,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar